JAKARTA — Kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kini menghadapi ancaman serius setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas hingga menghanguskan sedikitnya 120 hektare area vegetasi. Dampak kerusakan lingkungan ini memaksa otoritas pengelola mengambil langkah tegas dengan menutup sementara sejumlah pintu masuk jalur wisata Bromo.
Penutupan ini mencakup akses vital seperti pintu masuk Jemplang dan Coban Trisula yang berada di wilayah Kabupaten Malang. Langkah darurat diambil demi menjamin keselamatan wisatawan dari ancaman asap tebal dan kobaran api, sekaligus memberikan ruang bebas bagi tim gabungan untuk memfokuskan pemadaman.
Kerusakan Ekosistem Endemik dan Medan Ekstrem
Kebakaran yang bermula dari punggungan bukit di Blok Bantengan-Jantur tidak hanya menghanguskan semak dan alang-alang, tetapi juga mengancam kelestarian flora endemik pegunungan. Tanaman cemara gunung, mentigi, akasia, hingga edelweiss yang menjadi penopang ekosistem khas Bromo kini musnah dilalap api.
Proses penanggulangan di lapangan menghadapi kendala berat akibat topografi yang sangat curam. Api membakar area lereng dengan kemiringan ekstrem mencapai 80 hingga 90 derajat, sehingga tidak mungkin dijangkau oleh personil pemadam darat.
Teknologi Udara Dikerahkan untuk Penanganan Darurat
Melihat sulitnya akses medan, Satuan Tugas Kebakaran Hutan mengubah strategi dengan mengoptimalkan penanganan via udara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan helikopter water bombing dan drone water spray untuk menjangkau titik api yang terisolasi di tebing-tebing terjal.
Meski cuaca kemarau dan hembusan angin kencang mempercepat perambatan api, pihak Balai Besar TNBTS mengonfirmasi bahwa pemicu utama kebakaran ini adalah aktivitas manusia di jalur lintasan tradisional, bukan fenomena alam semata. Hingga saat ini, petugas gabungan masih berjuang menahan laju perambatan api agar tidak membakar kawasan konservasi yang lebih luas.






